SUDAH DI ANALISIS DENGAN SEGITIGA KEBIJAKAN SEBAGAI BERIKUT:
AKTOR:
· Melakukan Penelitian
Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI): yang melakukan penelitian mengenai pemberian ASI eksklusif selama enam bulan dirasa sangat lama untuk ibu yang bekerja
Magister Kedokteran Kerja Departemen Kedokteran Komunitas FKUI: yang melakukan penelitian mengenai hasil persentase pekerja sektor formal di Jakarta yang memberi ASI eksklusif hanya 32%.
Wanita karir
· Penyediaan Layanan
RS Cipto Mangunkusumo
Mall besar di Jakarta
· Sumber Daya Keuangan
Pemerintah
Sektor swasta
Pihak Rumah Sakit
KONTEKS:
Isu pengadaan pojok asi agar tidak menghambat karir perempuan Menjadi perempuan karir seharusnya tidak menjadi penghalang para perempuan untuk memberikan ASI ekslusif kepada bayinya. Selain masalah waktu, kebijakan perusahaan dan minimnya fasilitas ruang menyusui di tempat kerja juga mempengaruhi.
· Konteks situasional
Alasan mereka kebanyakan adalah cemas atau repot harus kembali bekerja dan merasa tidak nyaman meninggalkan pekerjaan. Sehingga menjadi pemicu bayi tidak mendapatkan ASI yang eksklusif.
· Konteks struktural
Konteks ini di picu oleh beberapan kebijakan di perusahaan yang tidak memungkinkan perempuan untuk sempat memberikan ASI eksklusif kepada bayinya, serta belum adanya kebijakan yang menekankan untuk pengadaan ruang menyusui di tempat tempat umum.
· Konteks Budaya
Budaya memegang peranan penting sebagai faktor penentu peningkatan derajat kesehatan kususnya ASI eksklusif. Kemungkinan kurang pengetahuan ibu terhadap manfaat ASI eksklusif, kurangnya informasi pelayanan kesehatan, tingkat pendidikan yang rendah dll.
· Konteks Internasional
Peraturan – peraturan ini muncul adalah bagian dari keikutsertaan Pemerintah Indonesia dalam mewujudkan dan meningkatkan derajat kesehatan dunia melalui kerjasama lintas Negara dan ikut dalam organisasi WHO sebagai organisasi yang fokus terhadap permasalahn kesehatan dunia kususnya ASI eksklusif.
PROSES:
Pojok ASI diperlukan untuk melancarkan program ASI ekslusif. Selain itu, berbagai manfaat yang didapatkan dari ASI itu sendiri sudah cukup menjadi dorongan agar pemberian ASI ekslusif meningkat kepada bayi di Indonesia. Sehingga, menjadi perempuan karir tidaklah menjadi alasan untuk menghambat pemberian ASI ekslusif apabila ditambah adanya dukungan ruangan nyaman untuk menyusui di tempat-tempat kerja dan tempat-tempat umum.
ISI/CONTENT:
pemberian ASI eksklusif selama enam bulan dirasa sangat lama untuk ibu yang bekerja karena mereka harus menyelesaikan cutinya sesudah tiga bulan dan kembali beraktivitas. Hal ini diiringi oleh jumlah pekerja perempuan Indonesia yang terus menanjak, yaitu bertambah 2,12 juta dalam empat tahun. Menjadi perempuan karir seharusnya tidak menjadi penghalang para perempuan untuk memberikan ASI ekslusif kepada bayinya. Selain masalah waktu, kebijakan perusahaan dan minimnya fasilitas ruang menyusui di tempat kerja juga mempengaruhi.
Menurut
penelitian Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI),
pemberian ASI eksklusif selama enam bulan dirasa sangat lama untuk ibu
yang bekerja karena mereka harus menyelesaikan cutinya sesudah tiga
bulan dan kembali beraktivitas. Hal ini diiringi oleh jumlah pekerja
perempuan Indonesia yang terus menanjak, yaitu bertambah 2,12 juta dalam
empat tahun. Menjadi perempuan karir seharusnya tidak menjadi
penghalang para perempuan untuk memberikan ASI ekslusif kepada bayinya.
Selain masalah waktu, kebijakan perusahaan dan minimnya fasilitas ruang
menyusui di tempat kerja juga mempengaruhi. Menurut penelitian terbaru
dari Program Magister Kedokteran Kerja Departemen Kedokteran Komunitas
FKUI, persentase pekerja sektor formal di Jakarta yang memberi ASI
eksklusif hanya 32%. Selain rendahnya pemberian ASI eksklusif, hasil
penelitian lainnya adalah sekitar 45% pekerja perempuan sektor formal
berhenti menyusui sebelum empat bulan dan mulai memberikan susu formula
atau makanan pendamping ASI (MP-ASI) kepada anaknya. Alasan mereka
kebanyakan adalah cemas atau repot harus kembali bekerja dan merasa
tidak nyaman meninggalkan pekerjaan.
ASI
memberikan banyak manfaat kepada bayi maupun ibu yang menyusui. Menurut
Buku Panduan Manajemen Laktasi dari Departemen Kesehatan tahun 2001,
ASI dapat mempengaruhi kontak langsung ibu-bayi dengan ikatan kasih
sayang karena berbagai rangsangan seperti sentuhan kulit (skin to skin
contact). Bayi akan merasa aman dan puas karena bayi merasakan
kehangatan tubuh ibu dan mendengar denyut jantung ibu yang sudah dikenal
sejak bayi masih dalam rahim. Selain itu, dengan menghisap payudara,
koordinasi syaraf bayi saat menelan, menghisap dan bernafas yang terjadi
pada bayi baru lahir dapat berfungsi lebih sempurna.
Kandungan
laktoferin, sejenis protein yang merupakan komponen zat kekebalan, yang
mengikat zat besi di saluran pencernaan sehingga imun bayi dapat lebih
baik. Dan kandungan bifidus, sejenis karbohidrat yang mengandung
nitrogen, menunjang pertumbuhan bakteri lactobacillus bifidus. Bakteri
ini menjaga keasaman flora usus bayi dan berguna untuk menghambat
pertumbuhan bakteri yang merugikan.
Di
tempat umum masih jarang yang terdapat pojok ASI dan walaupun ada,
kadang kurang nyaman. Saat dilakukan observasi ke RS Cipto Mangunkusumo,
di bagian Poli Anak (foto di ambil pada Jumat, 14 Juni 2013 pukul
11.44) terdapat ruangan untuk menyusui, tetapi belum terlalu nyaman
untuk dipakai dan isi ruangan tersebut hanyalah tempat tidur anak dan
kursi untuk ibu. Dan berdasarkan wawancara karyawan di RSCM, ada juga
ruangan untuk menyusui di Poli THT, tapi karena tidak layak pakai,
akhirnya tidak terpakai walaupun ruangannya sudah ada. Poli Anak dan
Poli THT berada di lantai yang berbeda, seharusnya sebagai rumah sakit
harus menyediakan ruangan menyusui di setiap lantai agar karyawan rumah
sakit maupun pengunjungnya dapat menyusui dengan mudah. Tapi di Mall
besar di Jakarta, seperti Senayan City sudah memiliki ruangan menyusui
yang cukup nyaman. Mungkin karena fasilitas dari Mall itu sendiri sudah
memberikan kenyamanan kepada pengunjungnya. Namun, tidak semua Mall
memiliki pojok ASI, contohnya saat observasi ke Kalibata Mall.
Seharusnya di tempat-tempat umum memiliki pojok ASI.
Pojok
ASI diperlukan untuk melancarkan program ASI ekslusif. Selain itu,
berbagai manfaat yang didapatkan dari ASI itu sendiri sudah cukup
menjadi dorongan agar pemberian ASI ekslusif meningkat kepada bayi di
Indonesia. Sehingga, menjadi perempuan karir tidaklah menjadi alasan
untuk menghambat pemberian ASI ekslusif apabila ditambah adanya dukungan
ruangan nyaman untuk menyusui di tempat-tempat kerja dan tempat-tempat
umum.
SEGITIGA KEBIJAKAN
NAMA : NURMA AQMARINA
NIM : 1500029267
KELAS : A